-->

Jumat, 03 Desember 2010

Kelinci Putih

Oleh Hardiyanti


Malam ini aku tidur lebih awal, habis isya’ aku langsung memeluk guling. Tidur. Besok ada ulangan matematika nggak masalah, bekerku udah ku alaram jam 03.00, jadi bisa tenang.
            “Ma, besok aku bangunin jam tiga tit ya…!” kataku pada mama sebelum ku masuk kamar.
            Itu buat siap-siap kalo-kalo aku nggak bisa dibangunin bekerku.
            Sekitar pukul 21.00 hapeku bunyi, tanganku meraih hape di meja. Dengan otak sadar tak sadar kubuka sms. Dari…..
            Pagi-pagi kubangun, matahari udah tinggi.
            “Waaah….. jam setengah 7,” seruku.
            Secepat kilat kumandi, siap-siap ke sekolah. Nggak sarapan udah biasa, tapi nggak liat papa ama mama tumben, kemana ya mereka?
            “Mungkin dah berangkat,” jawab pikiranku, tanpa ingin memperpanjang lagi.
Teringat ada ulangan matematika, membuat hatiku gusar. Belum belajar. Udah bangun kesiangan pula. Dengan dandanan yang masih agak berantakan, lalu ku keluarkan motor dari bagasi.
“Bonceng aku aja,” kata seseorang.
Terlihat seorang cowok nangkring di motor sambil senyum padaku. Senyum apakah itu? Aku hanya bengong melihatnya.
“Yok!” ajaknya lagi.
Entah apa yang kupikir saat ini, langsung saja ku ngembaliin motor ke bagasi, lalu kunaik di motornya tanpa ba  bi bu. Dalam perjalanan itu, terlalu singkat untuk memulai pembicaraan. Sampai depan sekolahku, aku turun.
“Makasih..,” kataku.
Dia tak menjawab. Tapi tangannya mencegahku ketika aku akan pergi, lalu dia memberi ku sebuah ……., tanpa kata.
Kring. Kring. Kring.
Mataku masih enggan membuka. Kulihat bekerku yang masih bunyi itu, jam 03.00.
“Wuaaach….. hum.”
“Jam 3 sore,” pikirku.
“Za, Za… bangun, katanya mau belajar,” terdengar suara mama sari depan pintu kamarku.
“Ya…Ma, ini juga udah bangun”
Jam 3 pagi? What? Tadi cuman mimpi…
Mataku tertuju pada boneka kelinci putih di sampingku. Dari Dino sebagai kado ultahku dua tahun lalu. Sampai saat ini boneka ini jadi boneka kesayanganku. Secara yang ngasih my fist love dan hingga saat ini aku masih menyimpan rasa itu untuknya.
Teringat mimpiku tadi, seperti tak percaya bahwa itu benar-benar mimpi. Boneka itu…. Tadi yang dikasih untukku lagi. Jadi kangen dia.
Cintaku waktu SMP kandas cuman gara-gara beda SMA. Emang waktu itu kita masih anak bawang buat mikirin cinta, paling mentok cinta monyet. Tapi sejak ku pisah dengannya hampir setahun ini, cinta itu muncul lagi. Menutupi hatiku… lagi. Mewarnainya dan rindu.
“Oh iya, kayaknya ada sms deh tadi malem. Siapa ya..?”
Kuambil hapeku.
( Good night… Neza )
“Dino?”
Tak biasanya dia sms cuman ngucapin itu doang. Dasar. Makin ngebuatku penasaran aja ma Dino.
Kupaksa otak ini untuk menerima matematika. Dino dan mimpi ku sisihkan, walaupun emang nggak gampang untuk konsen belajar. Payah. Masih aja kepikiran Dino, boneka, sma, mimpi, dan cinta.
Hingga terdengar adzan subuh, belajarku sia-sia. Habis sholat ku malah ketiduran. Pikiranku lelah. Terlalu jauh aku mengorek rahasia mimpiku. Sangat.
            Aku terbangun oleh sms Rita, temen SMPku.
            ( Nez,udh tw lom? Dino kecelakaan )
            “Kecelakaan,” gumamku.
            ( Kapan? )
            ( Tadi malem jam 9-nan )
            “Sekitar jam 9 kan dia sms aku, jadi….”
            Bayanganku kemana-mana. Dino, kenapa, ada apa, gimana?
            Ulangan matematikaku kali ini aku siap untuk remidi, aku tak bisa maksimal. Terserahlah kata Pak Nug, mau marah atau apalah terserah. Pulang sekolah aku sendirian ke RS Indah, tempat Dino dirawat. Mawar 6. Kuketuk pintu kamar.
            “Masuk!”
            Dino terbaring, kaki dan tangannya diperban. Senyumnya tak bisa menyembunyikan muka pucatnya yang lebam. Pedih ku rasa saat melihatnya. Di dekatnya, lama ku tak bisa berkata-kata. Senyum yang terukir dibibirnya seperti dalam mimpiku semalam.
            “Emm…”
            “Kok udah pulang sekolah,” tanyanya memulai pembicaraan.
            “E…e pulang pagi, ada rapat.”
“Oh…”
Kuambil gantungan kunci lalu kuberikan letakkan di tangan kanannya.
“Apa nih? Kelinci putih?”
Ku hanya bisa tersenyum. Dia menggenggam erat gantungan kunci itu. Hatiku berdesir, memberikan suatu isyarat. Tiba-tiba, masuk seorang cewek.
“Gimana yank, udah enakan?” tanya cewek itu. “Siapa yank?” lanjutnya.
Sadar bahwa pertanyaan itu tertuju padaku, lalu kujawab,” Kenalin aku Neza, temen SMP Dino.” Kujabat tangannya.
“Aku Ita, pacar Dino.”
Pacar? Sejak kapan? Tak pernah dia cerita ama aku tentang pacarnya. Kukira ia masih punya perasaan itu, tapi ternyata ……
Kulihat Dino, dia berpaling seperti tak mau ketahuan raut mukanya. Ku tak ingin menganggu mereka.
“Din, aku pulang dulu. Lekas sembuh ya. “Maaf kalo aku ngganggu istirahatmu.”
“Makasih Za, udah nengok aku.”
Dengan Ita ku hanya tersenyum. Senyumku meninggalkan kamar ini membawa luka. Luka yang sempat terobati dengan mimpiku semalam, sekarang luka itu tergores lagi dengan senyum cewek itu.

Akankah aku bisa melupakannya
sedang dia masih memberi senyuman itu
dan kelinci putih
masih menghiasi sudut kamarku

mungkinkah ku rela
bila dia bersamanya
bahagia

atau…
haruskah ku menunggu
cinta yang yang belum pasti
cinta khayalan yang ku buat sendiri

aah…..
andai ku bias ku ulang waktu
cinta ini ku bunuh sebelum berbunga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar