Ingin diambilnya sebuah buku kecil dari rak tapi untuk kesekian kalinya ia urungkan. Telah terlihat tetes air mata yang membasahi pipinya, mungkin sakit yang dirasa. Tapi tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Mengapa? Sepertinya ia tak ingin orang lain mengetahui atau ia menganggap mereka yang disana tak peduli dengannya lagi. Entah.
Aku tahu, kau dan aku tak ingin seperti ini. Tapi apa mau dikata, kaupun tak kunjung mewujudkan keinginan mereka. Aku hanya seorang anak, sedang kewajiban seorang anak adalah menghormati mereka, orang tuaku. Aku tak ingin membuat mereka kecewa dengan pilihanku nanti. Kau pun pasti tahu betapa berat pilihan itu. Empat tahun kita bersama dan hanya akan berakhir seperti ini, tak pernah terbayangkan. Tapi aku dan kau bukanlah penentu hubungan kita, bukan juga mereka. Bila memang kita berjodoh takkan ada yang menghalangi. Dan asal kau tahu aku masih ingin kita bersama…… Dhan.
Kalimat terakhir yang ia tulis bersama tetesan air matanya yang terakhir pula. Puas karena ia telah mencurahkan segala bebannya sejak tadi. Pedih yang terasa sejak bapaknya mengatakan tentang masa depan hidupnya, tadi. Dan sekarang ia tak ingat lagi dengan apa yang ia tulis. Pulas. Lelap.
***
Ketika sebuah mobil silver memasuki pekarangan rumahnya sehabis magrib, ia sedang berada di kamarnya. Serombongan orang keluar dari mobil menuju rumahnya. Seorang laki-laki berumur sekitar lima puluhan tahun berdampingan dengan seorang ibu yang berjilbab ungu tua. Di belakangnya ada dua pemuda, yang seorang lebih tua dari yang lain selisih sekitar lima tahun.
“Ridwan,” bisiknya.
Sejak mobil itu datang dia mengintip dari kaca jendela kamarnya. Tak ada yang berbeda, karena hampir setiap malam rumahnya selalu didatangi oleh satu atau dua keluarga teman bapaknya. Prawira Sudirdjo. Dan ayah Ridwan, Pak Ismail merupakan teman SMP bapaknya dan hampir setiap sebulan sekali beliau bersama istri ke rumahnya. Tapi kenapa sekarang bersama Ridwan pula. Entahlah, itu bukan urusannya. Dia ingin tidur walaupun hanya sejenak untuk melepas penat, lepas dari berbagai tugas kuliah yang belum selesai. Belum lama matanya terpejam, ia terbangun mendengar namanya disebut.
“Kalau untuk Eldha, kami berdua akan membicarakannya nanti, yang pasti ia harus setuju dengan keputusan kami ini.”
“Tapi kami tak ingin Eldha setuju karena terpaksa.”
“Tidak. Tidak karena terpaksa tentunya. Ia pasti tahu, apa yang menjadi keputusan kami baik bagi kehidupannya nanti.”
“Ya, syukur jika begitu. Kami lega mendengarnya. Semoga apa yang kita harapkan selama ini menjadi kenyataan,” kata Pak Ismail sambil tersenyum.
“Benar-benar menjadi cabe. Calon besan,” sambung Pak Prawira.
Suara tawa pun memenuhi ruang tamu yang berukuran 2x3 itu.
“Cabe? Calon besan,” bisiknya. Ada apa ini sebenarnya?”
Sekitar pukul 09.00 WIB. Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi dan sudah larut malam, keluarga Pak Ismail pamit pulang dengan senyum yang terkembang. Ketika suara mobil tak terdengar lagi, dari ruang tamu Pak Prawira memanggil putrinya.
“Dha… Eldha, sini Bapak mau bicara denganmu.”
“Ya Pak..,”
Eldha datang lalu duduk di kursi panjang sedang Pak Prawira sejak tadi telah menunggu di kursi yang hanya cukup untuk satu orang saja. Pak Prawira mengambil cerutu lalu menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Ia masih menikmati asap yang keluar dari cerutu itu seperti ada yang ditunggunya. Tak lama kemudian Bu Prawira datang membawa segelas kopi pahit untuknya. Setelah meminum beberapa kali tegukan, lalu mendehem.
“Nduk, tadi keluarga Nak Ridwan ke sini menanyakanmu,” kata Pak Prawira memulai pembicaraan.
“Memang ada apa Pak?”
“Pak Ismail meminta ijin bapak untuk mengambilmu menjadi menantunya. Bapak harap kamu menyetujuinya, kamu sudah dewasa dan siap untuk berumah tangga, Nduk.”
“Tapi Eldha masih ingin kuliah Pak.”
“Kuliah kan bisa diteruskan setelah kalian menikah. Bapak akan malu bila menolak lamaran mereka.”
“Ramdhani?”
“Sudah, jangan pikirkan anak itu lagi, sudah berapa lama dia tak silaturahmi ke sini, sudah lupa dia dengan rumah ini. Terus, apa dia sekarang sudah mempunyai pekerjaan?”
“Belum.”
“Nah, apalagi belum punya pekerjaan. bapak dan ibumu tidak setuju bila nanti suamimu tidak memiliki penghasilan. Mau diberi makan apa istri dan anaknya nanti?”
“Tapi bukan berarti Eldha harus menikah dengan Ridwan kan Pak. Eldha bukan Siti Nurbaya. Dan Eldha tidak mau dijodohkan.”
Eldha memandang ibunya, berharap beliau akan mendukungnya.
“Sudah terima saja Nduk, bapakmu dan ibu kenal baik dengan keluarga mereka.”
Eldha menunduk dan mendengarkan kata-kata bapaknya karena hanya itu yang bisa dilakukannya dan bukan membantah mereka. Entah apa yang dikatakan bapaknya yang terakhir tapi itu membuat ia diantar ibunya menuju kamarnya.
***
Pagi-pagi ketika matahari telah menampakkan sinar panasnya. Burung-burung yang telah pergi untuk mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Sedangkan tanah yang tadi malam basah karena embun sekarang harus dicangkul untuk membuat lubang yang dalam dan lebar. Lubang masa depan Endha yang sesungguhnya. Air mata yang keluar dari mata Eldha tadi malam adalah air mata penghabisan. Air mata permintaan maafnya kepada bapak, ibu dan kekasihnya, Dhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar