-->

Minggu, 19 Desember 2010

idol baru kikiki.... baru kenal tapi bikin cenat cenut


 http://chitralolypoly.files.wordpress.com/2010/12/x2_3a3b2d9.jpg
RANGGA DEWAMOELA SOEKARTA
Lahir : 6 Januari 1988, Voorburg, Belanda
Zodiac : Capricorn
Penyanyi Favorit : Stevie Wonder
Studi : Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Lagu Favorit : Because of You, Keith Martin
Jajanan favorit : French Fries
Impian sukses : Membahagiakan dan membuat bangga orang tua
Pertama kali on stage : Lomba Nyanyi antar SD
Artis cewek favorit : Beyonce, Agnes Monica
Tidak disukai : Dibohongin dan Udara Panas

Jumat, 03 Desember 2010

Kelinci Putih

Oleh Hardiyanti


Malam ini aku tidur lebih awal, habis isya’ aku langsung memeluk guling. Tidur. Besok ada ulangan matematika nggak masalah, bekerku udah ku alaram jam 03.00, jadi bisa tenang.
            “Ma, besok aku bangunin jam tiga tit ya…!” kataku pada mama sebelum ku masuk kamar.
            Itu buat siap-siap kalo-kalo aku nggak bisa dibangunin bekerku.
            Sekitar pukul 21.00 hapeku bunyi, tanganku meraih hape di meja. Dengan otak sadar tak sadar kubuka sms. Dari…..
            Pagi-pagi kubangun, matahari udah tinggi.
            “Waaah….. jam setengah 7,” seruku.
            Secepat kilat kumandi, siap-siap ke sekolah. Nggak sarapan udah biasa, tapi nggak liat papa ama mama tumben, kemana ya mereka?
            “Mungkin dah berangkat,” jawab pikiranku, tanpa ingin memperpanjang lagi.
Teringat ada ulangan matematika, membuat hatiku gusar. Belum belajar. Udah bangun kesiangan pula. Dengan dandanan yang masih agak berantakan, lalu ku keluarkan motor dari bagasi.
“Bonceng aku aja,” kata seseorang.
Terlihat seorang cowok nangkring di motor sambil senyum padaku. Senyum apakah itu? Aku hanya bengong melihatnya.
“Yok!” ajaknya lagi.
Entah apa yang kupikir saat ini, langsung saja ku ngembaliin motor ke bagasi, lalu kunaik di motornya tanpa ba  bi bu. Dalam perjalanan itu, terlalu singkat untuk memulai pembicaraan. Sampai depan sekolahku, aku turun.
“Makasih..,” kataku.
Dia tak menjawab. Tapi tangannya mencegahku ketika aku akan pergi, lalu dia memberi ku sebuah ……., tanpa kata.
Kring. Kring. Kring.
Mataku masih enggan membuka. Kulihat bekerku yang masih bunyi itu, jam 03.00.
“Wuaaach….. hum.”
“Jam 3 sore,” pikirku.
“Za, Za… bangun, katanya mau belajar,” terdengar suara mama sari depan pintu kamarku.
“Ya…Ma, ini juga udah bangun”
Jam 3 pagi? What? Tadi cuman mimpi…
Mataku tertuju pada boneka kelinci putih di sampingku. Dari Dino sebagai kado ultahku dua tahun lalu. Sampai saat ini boneka ini jadi boneka kesayanganku. Secara yang ngasih my fist love dan hingga saat ini aku masih menyimpan rasa itu untuknya.
Teringat mimpiku tadi, seperti tak percaya bahwa itu benar-benar mimpi. Boneka itu…. Tadi yang dikasih untukku lagi. Jadi kangen dia.
Cintaku waktu SMP kandas cuman gara-gara beda SMA. Emang waktu itu kita masih anak bawang buat mikirin cinta, paling mentok cinta monyet. Tapi sejak ku pisah dengannya hampir setahun ini, cinta itu muncul lagi. Menutupi hatiku… lagi. Mewarnainya dan rindu.
“Oh iya, kayaknya ada sms deh tadi malem. Siapa ya..?”
Kuambil hapeku.
( Good night… Neza )
“Dino?”
Tak biasanya dia sms cuman ngucapin itu doang. Dasar. Makin ngebuatku penasaran aja ma Dino.
Kupaksa otak ini untuk menerima matematika. Dino dan mimpi ku sisihkan, walaupun emang nggak gampang untuk konsen belajar. Payah. Masih aja kepikiran Dino, boneka, sma, mimpi, dan cinta.
Hingga terdengar adzan subuh, belajarku sia-sia. Habis sholat ku malah ketiduran. Pikiranku lelah. Terlalu jauh aku mengorek rahasia mimpiku. Sangat.
            Aku terbangun oleh sms Rita, temen SMPku.
            ( Nez,udh tw lom? Dino kecelakaan )
            “Kecelakaan,” gumamku.
            ( Kapan? )
            ( Tadi malem jam 9-nan )
            “Sekitar jam 9 kan dia sms aku, jadi….”
            Bayanganku kemana-mana. Dino, kenapa, ada apa, gimana?
            Ulangan matematikaku kali ini aku siap untuk remidi, aku tak bisa maksimal. Terserahlah kata Pak Nug, mau marah atau apalah terserah. Pulang sekolah aku sendirian ke RS Indah, tempat Dino dirawat. Mawar 6. Kuketuk pintu kamar.
            “Masuk!”
            Dino terbaring, kaki dan tangannya diperban. Senyumnya tak bisa menyembunyikan muka pucatnya yang lebam. Pedih ku rasa saat melihatnya. Di dekatnya, lama ku tak bisa berkata-kata. Senyum yang terukir dibibirnya seperti dalam mimpiku semalam.
            “Emm…”
            “Kok udah pulang sekolah,” tanyanya memulai pembicaraan.
            “E…e pulang pagi, ada rapat.”
“Oh…”
Kuambil gantungan kunci lalu kuberikan letakkan di tangan kanannya.
“Apa nih? Kelinci putih?”
Ku hanya bisa tersenyum. Dia menggenggam erat gantungan kunci itu. Hatiku berdesir, memberikan suatu isyarat. Tiba-tiba, masuk seorang cewek.
“Gimana yank, udah enakan?” tanya cewek itu. “Siapa yank?” lanjutnya.
Sadar bahwa pertanyaan itu tertuju padaku, lalu kujawab,” Kenalin aku Neza, temen SMP Dino.” Kujabat tangannya.
“Aku Ita, pacar Dino.”
Pacar? Sejak kapan? Tak pernah dia cerita ama aku tentang pacarnya. Kukira ia masih punya perasaan itu, tapi ternyata ……
Kulihat Dino, dia berpaling seperti tak mau ketahuan raut mukanya. Ku tak ingin menganggu mereka.
“Din, aku pulang dulu. Lekas sembuh ya. “Maaf kalo aku ngganggu istirahatmu.”
“Makasih Za, udah nengok aku.”
Dengan Ita ku hanya tersenyum. Senyumku meninggalkan kamar ini membawa luka. Luka yang sempat terobati dengan mimpiku semalam, sekarang luka itu tergores lagi dengan senyum cewek itu.

Akankah aku bisa melupakannya
sedang dia masih memberi senyuman itu
dan kelinci putih
masih menghiasi sudut kamarku

mungkinkah ku rela
bila dia bersamanya
bahagia

atau…
haruskah ku menunggu
cinta yang yang belum pasti
cinta khayalan yang ku buat sendiri

aah…..
andai ku bias ku ulang waktu
cinta ini ku bunuh sebelum berbunga

Air Mata Penghabisan

Oleh Hardiyanti


Ingin diambilnya sebuah buku kecil dari rak tapi untuk kesekian kalinya ia urungkan. Telah terlihat tetes air mata yang membasahi pipinya, mungkin sakit yang dirasa. Tapi tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Mengapa? Sepertinya ia tak ingin orang lain mengetahui atau ia menganggap mereka yang disana tak peduli dengannya lagi. Entah.
Aku tahu, kau dan aku tak ingin seperti ini. Tapi apa mau dikata, kaupun tak kunjung mewujudkan keinginan mereka. Aku hanya seorang anak, sedang kewajiban seorang anak adalah menghormati mereka, orang tuaku. Aku tak ingin membuat mereka kecewa dengan pilihanku nanti. Kau pun pasti tahu betapa berat pilihan itu. Empat tahun kita bersama dan hanya akan berakhir seperti ini, tak pernah terbayangkan. Tapi aku dan kau bukanlah penentu  hubungan kita, bukan juga mereka. Bila memang kita berjodoh takkan ada yang menghalangi. Dan asal kau tahu aku masih ingin kita bersama…… Dhan.
Kalimat terakhir yang ia tulis bersama tetesan air matanya yang terakhir pula. Puas karena ia telah mencurahkan segala bebannya sejak tadi. Pedih yang terasa sejak bapaknya mengatakan tentang masa depan hidupnya,  tadi. Dan sekarang ia tak ingat lagi dengan apa yang ia tulis. Pulas. Lelap.
***
Ketika sebuah mobil silver memasuki pekarangan rumahnya sehabis magrib, ia sedang berada di kamarnya. Serombongan orang keluar dari mobil menuju rumahnya. Seorang laki-laki berumur sekitar lima puluhan tahun berdampingan dengan seorang ibu yang berjilbab ungu tua. Di belakangnya ada dua pemuda, yang seorang lebih tua dari yang lain selisih sekitar lima tahun.
“Ridwan,” bisiknya.
Sejak mobil itu datang dia mengintip dari kaca jendela kamarnya. Tak ada yang berbeda, karena hampir setiap malam rumahnya selalu didatangi oleh satu atau dua keluarga teman bapaknya. Prawira Sudirdjo. Dan ayah Ridwan, Pak Ismail merupakan teman SMP bapaknya dan hampir setiap sebulan sekali beliau bersama istri ke rumahnya. Tapi kenapa sekarang bersama Ridwan pula. Entahlah, itu bukan urusannya. Dia ingin tidur walaupun hanya sejenak untuk melepas penat, lepas dari berbagai tugas kuliah yang belum selesai. Belum lama matanya terpejam, ia terbangun mendengar namanya disebut.
“Kalau untuk Eldha, kami berdua akan membicarakannya nanti, yang pasti ia harus setuju dengan keputusan kami ini.”
“Tapi kami tak ingin Eldha setuju karena terpaksa.”
“Tidak. Tidak karena terpaksa tentunya. Ia pasti tahu, apa yang menjadi keputusan kami baik bagi kehidupannya nanti.”
“Ya, syukur jika begitu. Kami lega mendengarnya. Semoga apa yang kita harapkan selama ini menjadi kenyataan,” kata Pak Ismail sambil tersenyum.
“Benar-benar menjadi cabe. Calon besan,” sambung Pak Prawira.
Suara tawa pun memenuhi ruang tamu yang berukuran 2x3 itu.
“Cabe? Calon besan,” bisiknya. Ada apa ini sebenarnya?”
Sekitar pukul 09.00 WIB. Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi dan sudah larut malam, keluarga Pak Ismail pamit pulang dengan senyum yang terkembang. Ketika suara mobil tak terdengar lagi, dari ruang tamu Pak Prawira memanggil putrinya.
“Dha… Eldha, sini Bapak mau bicara denganmu.”
“Ya Pak..,”
Eldha datang lalu duduk di kursi panjang sedang Pak Prawira sejak tadi telah menunggu di kursi yang hanya cukup untuk satu orang saja. Pak Prawira mengambil cerutu lalu menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam. Ia masih menikmati asap yang keluar dari cerutu itu seperti ada yang ditunggunya. Tak lama kemudian Bu Prawira datang membawa segelas kopi pahit untuknya. Setelah meminum beberapa kali tegukan, lalu mendehem.
“Nduk, tadi keluarga Nak Ridwan ke sini menanyakanmu,” kata Pak Prawira memulai pembicaraan.
“Memang ada apa Pak?”
“Pak Ismail meminta ijin bapak untuk mengambilmu menjadi menantunya. Bapak harap kamu menyetujuinya, kamu sudah dewasa dan siap untuk berumah tangga, Nduk.”
“Tapi Eldha masih ingin kuliah Pak.”
“Kuliah kan bisa diteruskan setelah kalian menikah. Bapak akan malu bila menolak lamaran mereka.”
“Ramdhani?”
“Sudah, jangan pikirkan anak itu lagi, sudah berapa lama dia tak silaturahmi ke sini, sudah lupa dia dengan rumah ini. Terus, apa dia sekarang sudah mempunyai pekerjaan?”
“Belum.”
“Nah, apalagi belum punya pekerjaan. bapak dan ibumu tidak setuju bila nanti suamimu tidak memiliki penghasilan. Mau diberi makan apa istri dan anaknya nanti?”
“Tapi bukan berarti Eldha harus menikah dengan Ridwan kan Pak. Eldha bukan Siti Nurbaya. Dan Eldha tidak mau dijodohkan.”
Eldha memandang ibunya, berharap beliau akan mendukungnya.
“Sudah terima saja Nduk, bapakmu dan ibu kenal baik dengan keluarga mereka.”
Eldha menunduk dan mendengarkan kata-kata bapaknya karena hanya itu yang bisa dilakukannya dan bukan membantah mereka. Entah apa yang dikatakan bapaknya yang terakhir tapi itu membuat ia diantar ibunya menuju kamarnya.
***
            Pagi-pagi ketika matahari telah menampakkan sinar panasnya. Burung-burung yang telah pergi untuk mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Sedangkan tanah yang tadi malam basah karena embun sekarang harus dicangkul untuk membuat lubang yang dalam dan lebar. Lubang masa depan Endha yang sesungguhnya. Air mata yang keluar dari mata Eldha tadi malam adalah air mata penghabisan. Air mata permintaan maafnya kepada bapak, ibu dan kekasihnya, Dhan.
                                                                                                                                    


BAPAK

 Dening : Hardiyanti

Kaya adate, aku mulih sore, ngrampungake tugas ing ngomahe kanca. Ing ngarep gerdu, ibu lagi golek kalanjana. Dak teruske lakuku tanpa tekon. Pitik cacah lima padha mlayu wedi swara montorku. Gegerku wis pegel, setengah jam lungguh ing montor.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’a…..salam,” wangsulane bapak ora pati cetha nanging aku wis seneng. Dak demek tangane bapak, banjur dak ambung.
“Ibu ten pundi Pak,” pitakonku marang bapak. Ngetes.
“Nang…neng, ngendi mau. Sawah. Ahh. Sawah kidul.”
Bapak banjur dak esemi. Dak delok bapak mung ngguyu ngerti yen omongane salah lan during bias mbenerake. Bapak kang isih sarean dak tinggal salin banjur njukuk arit nusul ibu ing sanding gerdu. Ndingaren bapak ora ngurepake tivi.
“Pak, menawi badhe ngendika niku dieling-eling riyin saderenge nggih...,” kandaku marang bapak sadurunge aku metu, ing ngerepe bapak.
Pancen saben sore aku ngrewangi ibu ngaritake wedhus lan sapi. Aku wis dibagei wedhus siji supaya sregep ngarit. Karepe. Lan saiki wis manak loro. Nanging akeh-akehe sing ngarit yo mung ibu, sapa maneh. Wedhus telu karo cempe loro ing kandang kae ora bisa meneng yen mung dikandani aku durung mulih saka sekolah. Wiwit bakda asar, cangkeme mlongo, gembrat-gembret njaluk diseseli godhong. Sawise salim marang ibu, aku tekon.
“Napa Bu, sing ajeng kula rit?”
“Lha apa kana, godhong-godhongan akeh kok ndadak tekon. Kumau bapakmu lagi ngapa?” pitakone ibu.
“Bapak sek sarean. Niku wau nggih aras-arasen le njawab salame  Bu. Malah kula tangleti ibu wonten pundi jawabe ten sawah, sawah kidul.”
Parupane ibu ngguyu beda, lan ngendika.
“Bapakmu kae sakjane kur kurang semangat wae. Yen duwe rasa semangat, bakal gelis mari. Masak, saben awan turu wae, ora metu ngisis, karo tangane ora tau diobahake.”
“Gek kana nyengget godhong akasiya wae nggo nggantungi mengko sore . sing nggo mengko wis ana kari makaake,” perintahe ibu.
“Siap Bu,”jawabku.
“Mengko njur ngliwet karo njangan bening.”
Aku mung ngacungi jempol. Tanda setuju. Arit dak pasang ing pucuk genter lan genter dak dekake.
Meh setaun aku ora dikancani bapak ngarit. Adate saben sore ngene iki, aku lan bapak ngarit suket bareng.aku ngeritake wedhus, bapak sapine. Sinambi ngarit, bapak menehi cangriman marang aku. Sing paling dak senengi.
“Dicokot pucuke sing kelong buntute, apa Ti?”
“Udut to Pak. Kula pun ngertos nek niku, sanese malih napa Pak?”
“Nek iki kowe mesti durung ngerti. Bongkahing bantala bareng karo patine. Arep mlebu swarga nyemplung neraka dhisik, diembel-embeli s telu. Apa kuwi?” pitakone bapak samba mesem, ngerti yen aku ora bakal bias njawab.
“Napa nggih, boten nate mireng Pak.”
“Mau jare golek sing durung ngerti.”
“Yen niku boten ngertos temenan. Boten wonten bayangan. Aku nyerah, hehe…
“Nggodog tela.”
“Kok saged?”
“Ngene lho Nduk. Bantala kuwi lemah. Yen tela dibedhol kae padha karo matine. Swarga kuwi besi, nerakane mencek sing digeneni, panas to. Sadurunge diwadhai besi digodhong dhisik ing mencek. Diembel-embeli s telu, santen, sarem lan salam supaya enak.”
“Oalah. Wau dikandani, kula nggih njawab ngoten pak. Menawi sarem niku napa pak?”
“Sarem ra ngerti. Uyah.”
Papan kang dadi sabane bapak saiki mung amben. Amben kang didelehake ing ngarep tivi. Yen aku mulih tivi wus murup, bal wus ngglinding. Bapak ana ing ngarep tivi glenak glenik dhewe nonton bal-balan.
Alhamdulillah mung kuwi kang bisa dak ucapake marang Gusti. Ora ngira bapak saiki bisa mlaku dhewe, mangan dhewe lan omong raketan isih kleru. Saiki wus bias adus ing jamban, ora kaya sepuluh taun kepungkur, nalika aku bali sekolah.
Wiwit ing dalan aku mung kelingan ngomah, kepengen gek tekan ngomah.
“Mas bapak nandi?”
“Nang sawah,” wangsulane cekak.
“Gek ngarit, selak kesoren!”
Wangsulan kang cekak saka masku dak percaya wae. Nanging saya suwe ana sing ora beres. Wis saya sore, bapak ora mulih-mulih saka sawah. Lan ibu yo lunga nandi, wiwit aku mulih ora ketok. Dak tileki ing kamare, ora ana. Dak belokake, ora nyaut.
“Mas, bapak lan ibu ki nandi to sakjane, wis sore kok durung bali?’
Masku mung meneng wae, kaya bingung apa sing arep diomongake.
“Kowe mengko aerp nang nggone pak Agos ora, bapak nang kana karo ibu barang.”
Deg.
“Ngapa?”
“Bapak tiba. Nek kowe arep nileki bapak, mengko nggawa saline ibu sisan.”
“Sakjane ana apa to Mas?”
“Ora ana apa-apa.”
Ora ana omongan liya kang gamblang lan bisa nggambarake kahanane bapak. Atiku isih kepengen ngerti akeh. Ngapa, kepiye, kapan… Karo nglempit sandangan aku mikir, ngapa ndadak gawa salin kanggo ibu yen bapak ora kena apa-apa. Lan ngapa aku ora dikandani kadadean sak tenane. Bapakku dhewe.
Mlebu kamar rumah sakit, Mawar nomer 2, rakrasa iluh tiba ana pipi. Bapak sarean ing amben mujur ngetan, ibu sing lungguh ing kursi banjur nyikep aku. Ora omong apa-apa. Wektu iku, bapak ora bisa tangi. Bapak ora bisa obah. Bapak ora bisa omong. Bapak lali karo aku. Bapak kena stroke. Kahanan rinasa sepi, mung keprungu swara tangis sesenggukan.
Seminggu bapak ana dhuwur sprey ijo ing papan cilik kae. Saben mulih sekolah aku mampir, genteni ibu sedhela yen ibu arep maem ing mburi rumah sakit. Badanne bapak sisih tengen ora bisa diobahake. Maeme mung bubur jemek kang dianakake rumah sakit.
“Nduk, kowe kudu sabar yo. Pancen pestine awake dhewe enthuk ganjaran iki. Muga-muga mung bapakmu wae sing oleh, rasah diturunake marang aku lan anak-anake. Melu ngrewangi ngrawat sing becik bapakmu iki, supaya bisa bareng, sehat karo awake dhewe maneh,” ngendikane ibu marang aku ing sawijining dina.
Ing ngomah. Saben bengi aku lan ibu ngancani bapak. Ing ngomah kidul kang jembar, bapak sarean. Ora let suwe nembung dipindah ing ngarep tivi kaya saiki. Sanadyan durung cetha omongane nanging bapak ora mandeg yen kepengen apa. Yen bapak mbutuhake wedang utawa ngelih pas bengi-bengi, aku utawa ibu kudu tangi. Persis rewang bayi. Kelingan dhek aku kira-kira umur telung taun, nalika bapak saka pasar numpak pir jawane.
“Bapak bayi… bapak bayi….” Bapak banjur menehi aku kacang bawang kang regane rongatusan rupiah jaman semono.
Dak rasakake malah kaya dadi nyata sanadyan mbiyen aku ora sengaja amarga isih celat.
Saka ngomah, ibu mlayu tumuju panggonku nyengget akasia. Kesusu-susu.
“Ti…Ti, bapakmu nandi?”
“Ten griya to Bu, wau nonton tivi.”
“Ora ana,” kandane ibu.
“Ten jamban utawa ten pawon?”
“Yo ora ana. Wis dak goleki nang ngendi-endi, ora ketemu.”
Aku lan ibu banjur mlayu tumuju gomah. Godhong akasia dak sia-siake. Pikiran wus tekan ngendi-ngendi. Gek ana pa. bapak lunga nandi. Amarga, seminggu kepungkur bapak digoleki nandi-nandi ora ketemu jebul tiba, glengsoran ing jamban. Sapa sing ora kaget yen wong lagi lara ngerti-ngerti ora ana ing papan adate.



Mengetahui,
Orang tua/ wali